Random banget ya abis liat review pisang tiba-tiba bahas kuliah AHAHAHA.
Setiap orang tentu berbeda, ada yang sudah punya cita-cita dari awal mau jadi apa, ada yang "disuruh" orangtua untuk jadi apa, bahkan tidak sedikit yang gatau mau jadi apa sampai lulus sekolah. Well, sebenarnya udah kuliah juga semakin gatau mau jadi apa, sih. irony sekali.
Masa-masa SMA jadi penentuan langkah kedepannya akan seperti apa, menentukan kuliah jurusan apa tentunya. Untungnya, sekolah saya menyediakan Bimbingan Konseling dengan guru yang sangat luar biasa, Bu Rini namanya. Beliau sangat memperhatikan kemauan serta kemampuan setiap siswa, hal ini didukung dengan beragam fasilitas yang disediakan seperti tes psikotes beberapa kali sampai pada bimbingan secara langsung kepada beliau. Tentunya hal ini dimaksudkan agar kami tidak salah langkah menjajaki dunia kuliah. Hal yang menarik setiap melihat hasil psikotes saya adalah kemampuan terendah adalah "kreativitas", saya tekankan lagi SELALU. Saya sangat tidak memungkiri sih, haha.
Ketika masuk SMA, saya sebenarnya tidak punya cita-cita apapun. Hingga saat kami kelas 2, ada tugas yang mengharuskan kami memetakan cita-cita tertinggi kami dalam sebuah diagram. Entah mengapa, saya menulisnya dengan "Menteri Perlindungan Anak dan Perempuan". Lagi-lagi saya tidak tahu apa yang saya pikirkan saat itu. Berikut beberapa faktor yang menyebabkan saya terjun ke dunia hukum:
1. Suka Pelajaran PKn Karena Materi dan Gurunya!
Keputusan saya untuk masuk ke dunia hukum berawal dari ketertarikan berlebihan saya terhadap pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Guru kami yang bernama Pak Yus, sangat luar biasa memberikan materi PKn yang mungkin menurut kawan-kawan di sekolah lain menganggap PKn sebagai mata pelajaran yang membosankan.
Bayangkan saja, kelas 11 kami sudah mendapat tugas untuk simulasi Pemilu. Setiap kelas merupakan partai yang mencalonkan tiga wakil untuk menjadi DPR. Kemudian ada beberapa dari kami yang juga menjadi anggota KPU (netral dan tidak mengikuti kegiatan partai). Simulasi ini berjalan beberapa minggu dengan adanya jadwal masa kampanye, hari tenang, dan lainnya. Semua terasa sangat nyata sebab kami tinggal di asrama. Ada masanya ketika kami harus mencalonkan Presiden dan Wakil Presiden serta berkoalisi dengan partai lain. Hari H Pemilu pun layaknya Pemilu pada umumnya, tentu dengan beragam aksi masyarakat yang aneh-aneh.
Kelas 12 kami simulasi sidang PBB. Saat itu sedang hangat-hangatnya kasus Laut China Selatan dengan nine dash line-nya. Kami seangkatan berjumlah 120 orang yang dibagi menjadi negara asean+China. Waktu itu saya mendapat bagian negara Laos (yang seperti kalian tahu, kami tidak punya laut tapi ikut bahas laut). Setiap negara harus melakukan aksi dengan kondisi nyata negara tersebut. Jadi kita harus riset bagaimana kedudukan negara kami dalam menyikapi sengketa Laut China Selatan. Pada hari H sidang, semua diatur sebagaimana sidang PBB sebenarnya lengkap dengan kostum antar negara, negosiasi antar negara pada saat breaktime, debat antar ketua delegasi pada sidang yang benar-benar menciptakan suasana panas. Sampai pada ujungnya kami semua sepakat untuk menandatangani pakta Laut Asia Timur Pasifik *jujur saya lupa haha*. Uniknya, beberapa tahun setelahnya, kasus Laut China Selatan mengalami penyelesaian yang mirip dengan sidang kami.
Semua materi PKn yang diajarkan di kelas pun tak kalah menarik. Tak heran kalau nilai PKn saya langganan bagus selalu. Saya cinta dengan materinya.
2. Tidak Bisa dan Tidak Suka Berhitung
Sebenarnya saya tidak terlalu fobia dengan berhitung. Sejak kecil sampai SMP, nilai berhitung saya selalu bagus, bahkan terbagus di angkatan. Namun sejak masuk SMA di kota yang terbilang favorit, ternyata saya begitu tertinggal jauh di belakang teman-teman saya. Matematika dan Fisika jadi pelajaran yang paling lemah bagi saya (selain Bahasa Inggris tentunya). Saya ingat sekali, ulangan pertama saya di SMA mendapatkan nilai 16 dari 100, di saat teman-teman saya ada yang 100. Sejak saya kesulitan untuk mendapatkan nilai bagus di Matematika dan Fisika, saya sudah berfikir bahwa ini bukan jalan saya. Bukannya menjadi benci atau apa, karena saya selalu menghadapi keduanya, tapi saya sadar kalau saya tidak bisa haha.
3. Pekerjaan Menjanjikan dan Dibutuhkan di Mana-Mana
Dalam satu angkatan SMA yang memilih jurusan Hukum hanya saya. Entah. Jadi alasan kuliah "ikut-ikut teman" sangat tidak berlaku bagi saya. Alasan pekerjaan di bidang hukum ini menjanjikan saya dapatkan ketika sudah berkuliah. Lingkup pekerjaan yang dimaksudkan tidak hanya pengacara, hakim, dan jaksa. Bahwa setiap perusahaan apapun, baik yang bergerak di bidang perbankan, telekomunikasi, asuransi, e-commerce, dan sebagainya tentu memiliki tim legal. Selain itu, bidang di pemerintahan juga memerluka sarjana hukum. Oleh karenanya, saya semakin yakin manakala melihat sarjana hukum dibutuhkan di bidang apapun. Meskipun faktanya, sarjana hukum menjamur di mana-mana, yah begitulah hidup, harus bersaing.
4. Cinta Ilmu Hukum
Satu hal yang saya dapati selama belajar hukum, bahwa saya benar-benar menikmati proses belajarnya. Banyak sekali materi yang saya tidak bisa tapi saya sangat enjoy dan dengan sepenuh hati mempelajarinya. Bagaimana menganalisis suatu perkara, penggunaan logika hukum, dan bahkan di kelas pun saya sering terkagum-kagum sendiri pada dosen yang menerangkan suatu hal yang saya sama sekali tidak tahu. Segala hal yang berkaitan dengan hukum begitu mencuri perhatian saya.
Sekian empat alasan kenapa saya memutuskan untuk masuk ke dunia hukum! Semoga membantu.

0 komentar:
Posting Komentar